Friday, October 24, 2008
suatu hari di jalanan ibukota
"Kemana Pak?"
Aku terbangun dari dunia khayalku. Aku tersadar bahwa aku sudah berada
dalam taksi biru.
"Ke gedung biru Bang"
Ia pun mulai menekan tombol argo. Rodapun mulai berputar dan menyusuri
padatnya ruas jalan di ibukota negara yang mau tidak mau harus dicintai
ini.
"Yah beginilah Pak. Kalau sudah jam makan siang. Jalan-jalan mulai
padat. Aneh juga pemerintah itu. Harusnya kan dia mikirkan bagaimana supaya
jalanan tidak semacet ini."
"Iya Bang" Aku coba menjawab singkat, walaupun pikirku masih berada
dalam dunia lain.
Selintas dari belakang terdengar bunyi sirene polisi pengawal. Dengan
motor besar yang dibelinya dari uang rakyat, berjalan sambil zig-zag
membuka jalan bagi mobil mercedez hitam dibelakangnya.
"Ah.. lihat itu pak. Itu pasti pejabat pemerintah. Paling tidak
wapreslah. Mungkin baru dari rumah istri mudanya dia. Tapi lihat aja.
Begitu mudahnya dia membuka kemacetan ini."
"Iya Bang"
"Harusnya sebagai pejabat dia harus merasakan macetnya ibukota. Jadinya
dia tahu gimana rasanya bersabar di kemacetan. Dan dia bisa ikut mikir
gimana supaya jalan tidak lagi macet" Raut Bapak berambut memutih mulai
menunjukkan amarahnya.
"Begitu ya bang. Tapi kan dia baru saja keenakan dengan fasilitas negara
pak. Masa sudah dapat fasilitas enak tidak dimanfaatkan sih pak"
"Benar pak. Tapikan dia juga harus merasakan penderitaan rakyat biar
bisa tahu kesusahan yang sedang dihadapi rakyatnya"
Selintas aku teringat akan sebuah surat yang menjadi pemenang lomba
penulisan surat kepada Presiden. Sepenggal surat yang sederhana dengan
bahasa anak namun sangatlah menggetarkan nuraniku.
"Saya nyesal pak, kemarin pilih partai itu. Dulu katanya dia mau bantu
rakyat kecil. Tapi toh sekarang, mana ada dia bantu kita. Sopir taksi juga
nggak bisa hidup enak. Susah mulu Pak. Enakan dulu pak. Sebelum reformasi.
Nggak susah hidupnya. Lapangan kerja banyak. Beras nggak mahal."
"Jadi lebih enak jaman dulu ya Bang?"
"Iya pak. Mana ada dulu rakyat yang kesusahan seperti sekarang ini.
Beras murah. Minyak tanah murah. Pengangguran sedikit"
"Begitu ya Bang. Tapi kan dulu presidennya banyak ngutang Bang?"
"Yang begitukan rakyat mana mau tahu Pak. Yang penting bagi rakyat
bagaimana agar kita bisa hidup tenang dan tidak susah"
"Iya ya Bang"
"Pemilu nanti saya nggak akan milih mereka lagi. Saya mungkin akan pilih
partai itu Pak" Tangannya menunjuk bendera partai di tepi jalan.
"Kenapa partai itu Bang?"
"Ya.. dari moral partai itu konsisten Pak. Juga dia punya kegiatan yang
konkret. Bantu rakyat miskin. Bantu pengobatan. Dan tanpa pamrih Pak. Saya
yakin mereka lebih memiliki hal yang nyata Pak"
"Apa nantinya nggak seperti yang sekarang Bang? Setelah terpilih, mereka
lupa dengan janji yang dulu"
"Kalau yang ini saya yakin nggak seperti itu Pak. Dia punya moral"
"Begitu ya Bang. Nggak seperti partai yang dulu ya Bang"
"Iya Pak. Nah belum lagi yang itu Pak" Ia menunjuk armada taksi
lainnya yang melintas.
"Kenapa Bang?"
"Dia itu pemakan bangsa sendiri Pak. Itu namanya penghianat bangsa."
"Kok bisa begitu Bang?"
"Iya. Coba aja liat, mana ada di kota ini tempat yang tidak dikuasi
mereka. Monopoli mereka itu Pak."
"Masa semua tempat dikuasai mereka Bang?"
"Benar Pak. Itu yang bikin kita susah. Mereka kuasai semua tempat di
kota ini. Kita nggak kebagian tempat. Jadinya kita cuma dapat sisa-sisa
dari mereka saja Pak.
"Jadinya mereka kejam ya Bang?"
"Benar Pak. Kalau sudah begini, mendingan bangsa kita jadi bangsa
komunis aja Pak"
"Kenapa begitu Bang?"
"Kalau komunis, semuanya jadi sama rata sama rasa. Semuanya akan bisa
makmur bersama. Nggak ada lagi beda antara kaya dan miskin. Kalau sekarang
ini kan, yang kaya makin kaya, yang miskin ya tetap aja miskin."
"Hmm…"
"Belum lagi kalau ada kepentingan mereka. Kita ini bisa digusur Pak."
"Jadi mendingan jadi negara komunis nih Bang?"
"Iya pak."
Aku menyeka keringat dan minum seteguk air.
"Sekarang kota ini makin panas Pak. Gubernurnya nggak peduli dengan yang
begini ini. Dia kan tinggal di dalam ruangan ber-AC terus."
"Iya Bang. Tapi itu kan banyak pohon Bang"
"Wah.. kalau itu cuma hiasan aja. Kalau saya jadi Gubernur Pak, saya
akan tanam pohon kecapi di sepanjang jalan kota ini."
"Kenapa kecapi Bang?"
"Kecapi itu pohon asli sini Pak. Dulu waktu saya masih kecil, masih
banyak pohon kecapi. Sekarang sudah banyak yang ditebang, diganti dengan
pohon beton itu Pak."
"Bukannya itu yang diinginkan dari pembangunan Bang? Fasilitas umum
untuk masyarakatnya"
"Ya… itu perlu. Tapikan kita masih perlu pohon Pak. Juga masih ada
lagi beberapa pohon yang perlu dilestarikan keberadaannya di kota ini.
Sekarang makin susah aja mencari pohon itu. Dan sekarang juga, kalau perlu
kayu harus ngambil dari Kalimantan."
"Begitu ya Bang. Kalau begitukan untung. Paling Kalimantan nanti yang
akan ketiban bencana Bang"
"Nggak boleh begitu juga Pak. Kasian juga kan mereka yang di Kalimantan
harus menanggung akibat yang dibuat oleh orang disini. Mereka kan sama
seperti saya juga. Masih susah dan selalu nggak pernah menerima manfaat
dari negara ini."
"Jadi kalau Abang jadi Gubernur, bakalan mulai tanam pohon nih Bang?
Jangan-jangan nanti kalau sudah jadi Gubernur, abang malah lupa dengan
janjinya. Kayak yang sekarang"
"Ya nggak akan lupa lagi Pak." Ia pun tersenyum tipis sambil sesekali
harus melihat kaca spion karena padatnya lalu lintas.
"Kalau yang itu ada apa Bang?" Aku menunjuk ke arah tumpukan kayu yang
sepertinya baru dirobohkan.
"Oh, itu kemarin baru digusur Pak. Itulah kejamnya pemerintah sekarang.
Rakyatnya cuma numpang hidup dan cari makan, sudah digusur. Dan lebih
kejamnya, mereka tidak pikirkan bagaimana nasib yang digusur itu
kemudian"
"Yang digusur tidak dikasih tempat tinggal baru Bang? Di rumah
susun?"
"Boro-boro Pak. Yang begitu saja kadang-kadang juga mereka sering
menerima pukulan aparat karena mencoba mempertahankan tempat tinggal
mereka. Sudah sering Pak mereka disakiti oleh pemerintah. Tapi ya namanya
rakyat, nurut aja apa kata pemerintah"
"Begitu ya Bang"
"Kalau saya sih pengennya ngajak rakyat demo. Tapi nggak kayak demonya
mahasiswa itu."
"Kenapa dengan demonya mahasiswa Bang?"
"Kalau demonya mahasiswa, cuma teriak-teriak. Nggak pernah didengar
kalau begitu Pak"
"Terus kalau abang demonya seperti apa"
"Kalau saya Pak, kumpulkan lima ribu orang, terus masing-masing orang
bawa setengah liter bensin"
"Bensin? Untuk apa Bang?"
"Ya kalau ada panser, kalau ada Brimob yang menghalangi, lempar saja
mereka dengan bensin, terus bakar. Kalau sudah begitu, siapa yang berani
ngalangin?"
"Iya juga ya Bang. Tapi nanti abang malah ditangkap?"
"Siapa yang berani nangkap Pak. Kalau kita bawa bensin. Mereka pasti
takut"
"Boleh dicoba itu Bang. Kalau abang jadi demo begitu, saya ikutan deh
Bang"
"Iyalah. Nah, liat itu di kanan." Ia menunjuk ke arah polisi yang lagi
mengeluarkan selembar kertas pada pengendara sepeda motor.
"Lagi cari uang makan dia Bang?"
"Iya. Begitulah kerjanya polisi disini. Cuma nambah bikin susah
rakyat."
"Memang selalu begitu mereka Bang?"
"Pasti. Mereka sih selalu bilang gajinya nggak cukup. Padahal gaji
mereka sudah lebih besar ketimbang penghasilan saya. Kerja mereka cuma
nongkrong dan nilang orang"
"Begitu ya Bang"
"Iya. Bapak mau turun di sebelah mana nih? Mau di depan?"
"Boleh di dekat telepon umum yang rusak itu deh Bang"
Iapun mengarahkan taksinya ke tepi jalan. Aku memberikan beberapa lembar
uang dan segera turun dari taksi biru tua ini.
"Terima kasih Bang atas obrolannya. Semoga bangsa ini besok akan lebih
baik Bang"
"Iya Pak, terima kasih juga"
Taksi biru tua itu berlalu menjauh dan kembali berada di kemacetan kota
yang tak pernah tidur ini.
[tp, 030830]
satu hari di jalanan ibukota
"Kemana Pak?"
Aku terbangun dari dunia khayalku. Aku sudah berada dalam taksi biru.
"Ke ujung kota Bang"
Ia pun mulai menekan tombol argo. Rodapun mulai berputar dan menyusuri
padatnya ruas jalan di ibukota negara yang mau tidak mau harus dicintai
ini.
"Yah beginilah Pak. Kalau sudah jam makan siang. Jalan-jalan mulai
padat. Aneh juga pemerintah itu. Harusnya kan dia mikirkan bagaimana supaya
jalanan tidak semacet ini."
"Iya Bang" Aku coba menjawab singkat, walaupun pikirku masih berada
dalam dunia lain.
Selintas dari belakang terdengar bunyi sirene polisi pengawal. Dengan
motor besar yang dibelinya dari uang rakyat, berjalan sambil zig-zag
membuka jalan bagi mobil mercedez hitam dibelakangnya.
"Ah.. lihat itu pak. Itu pasti pejabat pemerintah. Paling tidak
wapreslah. Mungkin baru dari rumah istri mudanya dia. Tapi lihat aja.
Begitu mudahnya dia membuka kemacetan ini."
"Iya Bang"
"Harusnya sebagai pejabat dia harus merasakan macetnya ibukota. Jadinya
dia tahu gimana rasanya bersabar di kemacetan. Dan dia bisa ikut mikir
gimana supaya jalan tidak lagi macet" Raut Bapak berambut memutih mulai
menunjukkan amarahnya.
"Begitu ya bang. Tapi kan dia baru saja keenakan dengan fasilitas negara
pak. Masa sudah dapat fasilitas enak tidak dimanfaatkan sih pak"
"Benar pak. Tapikan dia juga harus merasakan penderitaan rakyat biar
bisa tahu kesusahan yang sedang dihadapi rakyatnya"
Selintas aku teringat akan sebuah surat yang menjadi pemenang lomba
penulisan surat kepada Presiden.
Sepenggal surat yang sederhana dengan bahasa anak namun sangatlah
menggetarkan nuraniku.
"Saya nyesal pak, kemarin pilih partai itu. Dulu katanya dia mau bantu
rakyat kecil. Tapi toh sekarang, mana ada dia bantu kita. Sopir taksi juga
nggak bisa hidup enak. Susah mulu Pak. Enakan dulu pak. Sebelum reformasi.
Nggak susah hidupnya. Lapangan kerja banyak. Beras nggak mahal."
"Jadi lebih enak jaman dulu ya Bang?"
"Iya pak. Mana ada dulu rakyat yang kesusahan seperti sekarang ini.
Beras murah. Minyak tanah murah. Pengangguran sedikit"
"Begitu ya Bang. Tapi kan dulu presidennya banyak ngutang Bang?"
"Yang begitukan rakyat mana mau tahu Pak. Yang penting bagi rakyat
bagaimana agar kita bisa hidup tenang dan tidak susah"
"Iya ya Bang"
"Pemilu nanti saya nggak akan milih mereka lagi. Saya mungkin akan pilih
partai itu Pak" Tangannya menunjuk bendera partai di tepi jalan.
"Kenapa partai itu Bang?"
"Ya.. dari moral partai itu konsisten Pak. Juga dia punya kegiatan yang
konkret. Bantu rakyat miskin. Bantu pengobatan. Dan tanpa pamrih Pak. Saya
yakin mereka lebih memiliki hal yang nyata Pak"
"Apa nantinya nggak seperti yang sekarang Bang? Setelah terpilih, mereka
lupa dengan janji yang dulu"
"Kalau yang ini saya yakin nggak seperti itu Pak. Dia punya moral"
"Begitu ya Bang. Nggak seperti partai yang dulu ya Bang"
"Iya Pak. Nah belum lagi yang itu Pak" Ia menunjuk armada taksi
lainnya yang melintas.
"Kenapa Bang?"
"Dia itu pemakan bangsa sendiri Pak. Itu namanya penghianat bangsa."
"Kok bisa begitu Bang?"
"Iya. Coba aja liat, mana ada di kota ini tempat yang tidak dikuasi
mereka. Monopoli mereka itu Pak."
"Masa semua tempat dikuasai mereka Bang?"
"Benar Pak. Itu yang bikin kita susah. Mereka kuasai semua tempat di
kota ini. Kita nggak kebagian tempat. Jadinya kita cuma dapat sisa-sisa
dari mereka saja Pak.
"Jadinya mereka kejam ya Bang?"
"Benar Pak. Kalau sudah begini, mendingan bangsa kita jadi bangsa
komunis aja Pak"
"Kenapa begitu Bang?"
"Kalau komunis, semuanya jadi sama rata sama rasa. Semuanya akan bisa
makmur bersama. Nggak ada lagi beda antara kaya dan miskin. Kalau sekarang
ini kan, yang kaya makin kaya, yang miskin ya tetap aja miskin."
"Hmm…"
"Belum lagi kalau ada kepentingan mereka. Kita ini bisa digusur Pak."
"Jadi mendingan jadi negara komunis nih Bang?"
"Iya pak."
Aku menyeka keringat dan minum seteguk air.
"Sekarang kota ini makin panas Pak. Gubernurnya nggak peduli dengan yang
begini ini. Dia kan tinggal di dalam ruangan ber-AC terus."
"Iya Bang. Tapi itu kan banyak pohon Bang"
"Wah.. kalau itu cuma hiasan aja. Kalau saya jadi Gubernur Pak, saya
akan tanam pohon kecapi di sepanjang jalan kota ini."
"Kenapa kecapi Bang?"
"Kecapi itu pohon asli sini Pak. Dulu waktu saya masih kecil, masih
banyak pohon kecapi. Sekarang sudah banyak yang ditebang, diganti dengan
pohon beton itu Pak."
"Bukannya itu yang diinginkan dari pembangunan Bang? Fasilitas umum
untuk masyarakatnya"
"Ya… itu perlu. Tapikan kita masih perlu pohon Pak. Juga masih ada
lagi beberapa pohon yang perlu dilestarikan keberadaannya di kota ini.
Sekarang makin susah aja mencari pohon itu. Dan sekarang juga, kalau perlu
kayu harus ngambil dari Kalimantan."
"Begitu ya Bang. Kalau begitukan untung. Paling Kalimantan nanti yang
akan ketiban bencana Bang"
"Nggak boleh begitu juga Pak. Kasian juga kan mereka yang di Kalimantan
harus menanggung akibat yang dibuat oleh orang disini. Mereka kan sama
seperti saya juga. Masih susah dan selalu nggak pernah menerima manfaat
dari negara ini."
"Jadi kalau Abang jadi Gubernur, bakalan mulai tanam pohon nih Bang?
Jangan-jangan nanti kalau sudah jadi Gubernur, abang malah lupa dengan
janjinya. Kayak yang sekarang"
"Ya nggak akan lupa lagi Pak." Ia pun tersenyum tipis sambil sesekali
harus melihat kaca spion karena padatnya lalu lintas.
"Kalau yang itu ada apa Bang?" Aku menunjuk ke arah tumpukan kayu yang
sepertinya baru dirobohkan.
"Oh, itu kemarin baru digusur Pak. Itulah kejamnya pemerintah sekarang.
Rakyatnya cuma numpang hidup dan cari makan, sudah digusur. Dan lebih
kejamnya, mereka tidak pikirkan bagaimana nasib yang digusur itu
kemudian"
"Yang digusur tidak dikasih tempat tinggal baru Bang? Di rumah
susun?"
"Boro-boro Pak. Yang begitu saja kadang-kadang juga mereka sering
menerima pukulan aparat karena mencoba mempertahankan tempat tinggal
mereka. Sudah sering Pak mereka disakiti oleh pemerintah. Tapi ya namanya
rakyat, nurut aja apa kata pemerintah"
"Begitu ya Bang"
"Kalau saya sih pengennya ngajak rakyat demo. Tapi nggak kayak demonya
mahasiswa itu."
"Kenapa dengan demonya mahasiswa Bang?"
"Kalau demonya mahasiswa, cuma teriak-teriak. Nggak pernah didengar
kalau begitu Pak"
"Terus kalau abang demonya seperti apa"
"Kalau saya Pak, kumpulkan lima ribu orang, terus masing-masing orang
bawa setengah liter bensin"
"Bensin? Untuk apa Bang?"
"Ya kalau ada panser, kalau ada Brimob yang menghalangi, lempar saja
mereka dengan bensin, terus bakar. Kalau sudah begitu, siapa yang berani
ngalangin?"
"Iya juga ya Bang. Tapi nanti abang malah ditangkap?"
"Siapa yang berani nangkap Pak. Kalau kita bawa bensin. Mereka pasti
takut"
"Boleh dicoba itu Bang. Kalau abang jadi demo begitu, saya ikutan deh
Bang"
"Iyalah. Nah, liat itu di kanan." Ia menunjuk ke arah polisi yang lagi
mengeluarkan selembar kertas pada pengendara sepeda motor.
"Lagi cari uang makan dia Bang?"
"Iya. Begitulah kerjanya polisi disini. Cuma nambah bikin susah
rakyat."
"Memang selalu begitu mereka Bang?"
"Pasti. Mereka sih selalu bilang gajinya nggak cukup. Padahal gaji
mereka sudah lebih besar ketimbang penghasilan saya. Kerja mereka cuma
nongkrong dan nilang orang"
"Begitu ya Bang"
"Iya. Bapak mau turun di sebelah mana nih? Mau di depan?"
"Boleh di dekat telepon umum yang rusak itu deh Bang"
Iapun mengarahkan taksinya ke tepi jalan. Aku memberikan beberapa lembar
uang dan segera turun dari taksi biru tua ini.
"Terima kasih Bang atas obrolannya. Semoga bangsa ini besok akan lebih
baik Bang"
"Iya Pak, terima kasih juga"
Taksi biru tua itu berlalu menjauh dan kembali berada di kemacetan kota
yang tak pernah tidur ini.
[tp, 030830]
Wednesday, October 15, 2008
[blog action day] property konservasi melahirkan poverty
"entar aja beli alat elektronik, nunggu dollar turun aja."
"tapi kapan?"
"ya.. mungkin empat tahun lagi"
krisis keuangan amerika yang selalu mengimbas pada wilayah lain,
melahirkan efek domino yang terkadang sudah diduga. infrastruktur ekonomi
yang dibangun atas kepentingan pemodal besar, mendorong rapuhnya pondasi
ekonomi. belajar dari perjalanan krisis ekonomi asia yang pernah terjadi,
pertahanan terakhir negeri ini adalah para pelaku usaha kecil dan sedikit
menengah.
Rapuhnya industri property di US yang telah diprediksi keruntuhannya,
sebenarnya tak hanya mengganggu sektor ekonomi. bekerjanya property
konservasi dalam bingkai perlindungan alam, cenderung luput dari perhatian.
dan beruntungnya negeri ini, perusahaan property konservasi tersebut juga
bekerja dengan leluasa di negeri ini.
kemiskinan yang terjadi di negeri ini, lebih banyak berada pada
lingkar-lingkar kekayaan alam. pada sekitar perkebunan besar, pertambangan,
hutan tanaman industri ataupun bisnis konservasi, tersajikan potret
keterpurukan generasi negeri. minimnya layanan dasar manusia pada
wilayah-wilayah tersebut, menghadirkan pemiskinan keberlanjutan.
tanah, air, hutan, kehidupan. sebuah fatamorgana kesejahteraan. walau para
gubernur ataupun bupati sibuk untuk menjajakan kawasan hutan untuk
dipertukarkan carbonnya dengan keping emas, tak jua akan menghadirkan
peningkatan kapasitas ekonomi rakyat. minimnya sarana dan prasarana
transportasi publik yang memadai, ditambah dengan terbatasnya kapasitas dan
pengetahuan, menjadikan komunitas yang berkehidupan di sekitar kawasan
terlindungi sangat sukar mengembangkan produktifitasnya.
keselamatan rakyat dan jaminan layanan alam yang merupakan keharusan,
terkadang dilupakan dalam ranah kebijakan, disebabkan telah tersilaukannya
pelayan publik dengan keping emas dan helai hijauan.
property konservasi, yang harusnya melahirkan kesejahteraan, malah
cenderung melahirkan pemiskinan. akses dan kontrol terhadap sumberdaya yang
dihilangkan, mendorong komunitas lokal mengambil pilihan pragmatis untuk
mampu bertahan hidup. menjadi buruh ataupun pergi meninggalkan tanah
kehidupan, merupakan pilihan yang pasti.
menapaki transek masa lalu, perlahan dengan pemastian. ruang belajar,
tempat bermain, apotek raksasa, lebih baik dikembalikan kepada mereka yang
telah membangun interaksi sosial-kultural yang kuat dengan alamnya. pelayan
publik, wajib menentukan posisinya kepada komunitas lokal. perlindungan
alam secara kolektif akan lebih memberikan jaminan bagi kehidupan lain di
sekitarnya, yang terkadang tak pernah saling mempertemukan.