
Sistem ekonomi dunia yang saat ini sangat dikendalikan oleh kepentingan
kapital negara utara, telah menjadikan seolah tak ada lagi batas di antara
negara. Di sisi lain, negara-negara selatan yang belum kokoh pondasi
perekonomiannya, cenderung tercengkeram oleh kepentingan negara industri.
Sebuah dunia datar tanpa batas, tak akan mampu dicegah. Sebuah sistem baru
tatanan kehidupan manusia akan dilahirkan, dari interaksi antar manusia
yang saat ini tersekat dalam batasan negara. Namun menjadi penting untuk
mewujudkan sebuah tatanan kehidupan yang berkeadilan dan tanpa penindasan,
disaat dunia datar terwujudkan.
Sebuah Pintu Perubahan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan sebuah pintu menuju
dunia datar. Begitu cepatnya perkembangan TIK di dunia industri, telah
menggiring sebuah mekanisme sosial manusia saat ini di dunia. Tanpa perlu
waktu yang lama, perjumpaan dapat dilakukan. Hanya sebua nilai (etik) yang
menjadi pembatas dalam pengembangan sistem kehidupan yang menggunakan TIK.
Indonesia, sebagai sebuah wilayah yang dianugerahi kelimpahaan kekayaan
alam, tak akan menerima manfaat apapun, disaat dunia datar terwujud.
Kendali ekonomi pasar yang begitu mencengkeram negeri ini, telah
menjadikan keping emas sebagai sebuah kuasa atas segalanya. Kekuatan modal
dan negara industri telah berupaya menjadi penguasa baru dalam dunia datar.
Kekuatan uang hanya akan bisa dipatahkan oleh sebua solidaritas dari
negara-negara selatan yang merupakan negara berlimpa kekayaan alam.
TIK merupakan salah satu hal yang kemudian harus dikuasai oleh generasi
Kaltim di masa datang. Wajar saja bila kemudian kelompok pegiat TIK Kaltim
bermimpi untuk mendorongkan kelahiran lembah silicon (sebuah istilah bagi
pusat industri TIK) di sebuah tempat di Kaltim, karena bila India telah
mampu melakukan, mengapa negeri ini tak mampu mewujudkannya.
Kekuatan Dunia Maya
Dunia maya, sebuah sebutan bagi interaksi manusia dan mesin dalam sebuah
dunia yang tak terwujud melalui TIK, memiliki sebuah kekuatan tersendiri
dalam mendorong sebuah perubahan menuju dunia datar yang berkeadilan.
Sebagian besar solidaritas antar kelompok masyarakat telah terdorong
melalui interaksi di dunia maya. Banyak gagasan yang bermunculan dari
uraian ungkapan yang tanpa batas.
Aksi-aksi dunia nyata saat ini telah dengan mudah diketahui oleh belahan
dunia lainnya dalam waktu yang tak terlalu lama, bahkan negara pun takkan
mampu mengendalikannya, karena TIK merupakan salah satu jalan dunia tanpa
batas negara. Komunitas dunia maya pun berkembang dengan sangat cepat,
yang bahkan sebuah industri mencoba membangun sebuah kehidupan kedua
(second live) di jejaring maya, yang juga melakukan berbagai aktivitas
kehidupan, termasuk transaksi ekonomi dan sosial.
Peran dan kekuatan dunia maya telah menunjukkan salah satu posisinya
tersendiri dalam kehidupan manusia saat ini. Bila pada masa lalu, harus
melakukan lari marathon terlebih dahulu untuk mengabarkan sebuah pesan
penting, saat ini hanya dengan sepersekian detik, ratusan, ribuan, bahkan
jutaan manusia akan mengetahui sebuah pesan.
Dunia maya, merupakan sebuah kekuatan sosio-kultur baru dalam kehidupan
masa datang. Bila saja generasi negeri ini tak mampu membangun
kapasitasnya, maka suatu waktu akan menjadi sebuah generasi yang dilupakan
dalam berkehidupan di permukaan bumi. Pertarungan akan menjadi lebih keras
dan kompetitif, dan hanya kelompok yang kuat yang akan mampu
mempertahankan peradabannya di dunia datar.
Pertarungan Gagasan di Dunia Maya
Blog, merupakan sebuah alat untuk menuangkan gagasan dan hasil kerja otak
melalui dunia maya. Berjuta blog telah tumbuh dan berkembang di dunia.
Lebih dari 150 ribu blogger (penulis blog) telah hadir di negeri ini.
Miliaran gagasan telah lahir dan berinteraksi di jejaring maya. Beberapa
diantaranya menjadi sesuatu di kehidupan hari ini. Beberapa jejaring blog
terbangun dalam sebuah semangat kebersamaan dan keinginan bersama untuk
melakukan perubahan yang lebih baik pada peradaban dunia datar di kemudian
hari.
Blogger dunia telah bersatu melalui Hari Aksi Blog (blog action day) yang
dilakukan setiap tanggal 15 Oktober. Satu isu, berjuta gagasan untuk
perbaikan sebuah kehidupan manusia. Di tahun ini, dengan mengangkat isu
lingkungan hidup, telah pula menjadi sebuah hal yang didukung oleh lembaga
Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu United Nation for Environment Program
(UNEP).
Sementara itu, para blogger Indonesia berpesta pada 27 Oktober di sebuah
tempat yang bukan murah. Kelompok pemodal pun ikut serta bermain peran di
dalamnya. Blog telah pula menjadi sebuah alat bagi kelompok kepentingan
yang tetap ingin menjadi penguasa dunia datar melalui keping emas. Dengan
sebuah dalih mempertemukan gagasan di dunia nyata, para pelontar gagasan
di dunia maya telah melupakan arti penting jejaring kebersamaan dunia
maya.
Kedua kondisi tersebut menjadikan blog sebagai sebuah pertarungan gagasan
di dunia maya. Yang oleh kelompok pemodal juga dijadikan sebagai arena
menguatkan cakarnya menjelang peradaban baru. Sementara bagi kelompok
lain, blog merupakan sebuah bangunan solidaritas baru bagi sebuah
peradaban yang lebih berkeadilan bagi seluruh makhluk di permukaan bumi.
Mempersiapkan Anak Negeri di Dunia Datar
Globalisasi yang telah masuk dalam berbagai sendi kehidupan di negeri ini
sekarang, tak mungkin untuk ditolak. Dari sejak bangun tidur, hingga tidur
lagi, bahkan di saat bermimpi, globalisasi telah menjadi sebuah "hantu".
Bila saja "roh jahat" yang menguasai globalisasi, maka akan semakin banyak
komunitas yang hanya akan tercatat dalam sebuah buku sejarah di museum.
Anak negeri, harus dibangun kekuatan dan kapasitasnya dalam mempersiapkan
berbagai sendi kehidupan dalam menghadapi dunia datar. Namun, peran
pemerintah hari ini menjadi penting agar anak negeri tak harus terhempas
dalam cengkeraman "setan" globalisasi yang tak memiliki etika kehidupan.
Dalam fase antara, pemerintah harus mulai mendukung dan mempercepat
penguatan kapasitas anak negeri dalam penguasaan TIK. Anak negeri sudah
harus mampu berada di belahan dunia lain dalam waktu yang singkat dan
murah. Anak negeri tak harus duduk manis di tepi sungai yang menghitam
sambil berkhayal sedang mengirimkan sebuah email bagi seorang kawan di
negeri antah berantah.
Pemerintah sudah selayaknya membangun sebuah peta jalan (road map) untuk
mempersiapkan generasi berikutnya di negeri ini agar mampu bertarung di
dunia datar, demi memperjuangkan sebuah keadilan kehidupan. Dukungan
terhadap ketersediaan TIK yang aksesable menjadi hal sederhana yang dapat
dilakukan.
Sistem pendidikan yang terbaik dan gratis yang didukung dengan layanan
kesehatan yang baik dan gratis, menjadi sebuah tuntutan yang harus
dipenuhkan oleh pemerintah. Kurikulum pembelajaran yang memacu kerja-kerja
logika otak harus kembali ditumbuhkan sejak seorang anak mulai mengenal
aksara. Dialektika antar manusia, alam dan sejarah kehidupan sudah saatnya
dikenal lebih dini oleh anak negeri.
Perubahan pasti terjadi. Perubahan akan menjadi baik bagi kehidupan
generasi berikutnya bila memang diinginkan untuk sebuah kebaikan bersama.
Perubahan akan menjadi penghancuran sebuah komunitas, bila dikuasai oleh
"setan" dunia. Pilihannya ada pada pelayan publik negeri ini, berdiam diri
dengan perubahan atau mempersiapkan generasi negeri ini untuk bertarung
menuju sebuah peradaban yang berkeadilan pada dunia datar tanpa batas.
Cukup ironis melihat fenomena yang terjadi pada anggota parlemen. Di
tengah menurunnya minat belajar kehutanan pada kalangan generasi muda di
seluruh Indonesia, para anggota parlemen juga hanya yakin pada negara lain
untuk belajar kehutanan. Bila ditilik lebih jauh, Kaltim memiliki begitu
banyak pengetahuan dan pengalaman pengelolaan hutan yang sangat luar
biasa. Universitas Mulawarman (Unmul) di Samarinda memiliki Fakultas
Kehutanan terbaik di Indonesia, bahkan di Asia, termasuk telah
menghasilkan puluhan ribu kajian hutan tropis dan pengalaman uji lapangan
yang sangat panjang.
SDM Kehutanan Yang Terabaikan
Unmul, hingga saat ini telah menghasilkan ribuan sarjana kehutanan yang
memiliki potensi luar biasa dalam melakukan pengelolaan hutan tropis
Kaltim. Beberapa bahkan telah menjadi anggota parlemen di tingkat provinsi
maupun kabupaten-kota di Kaltim. Pada instansi teknis kehutanan pemerintah
pun, sebagian besar merupakan lulusan terbaik dari Fakultas Kehutanan
Unmul.
Runtuhnya industri kehutanan pada masa krisis ekonomi, telah menjadikan
begitu banyak SDM Kehutanan yang memilih untuk beraktivitas pada ruang
kehidupan yang berbeda. Tidak jelasnya komitmen penyelenggara negara
terhadap arah pembangunan kehutanan, telah pula menambah deretan panjang
tidak beraktivitasnya SDM kehutanan di Kaltim.
Isu kehancuran hutan, termasuk illegal logging yang semakin menguat pun,
telah menjadikan sebagian besar pihak sangat enggan dalam berusaha di
bidang kehutanan. Sistem pengelolaan kehutanan saat ini, telah sangat
menjauhkan potensi SDM kehutanan dari bidang aplikasinya. Bahkan sebagian
besar usaha kehutanan hari ini tidak dikelola oleh SDM kehutanan itu
sendiri.
Bertaburannya Guru Besar Kehutanan di Kaltim
Unmul, sebagai sebuah perguruan tinggi yang memfokuskan bidang keilmuan
pada hutan tropis basah memiliki sederet guru besar, yang tidak hanya
dikenal di Indonesia, namun juga sangat terkenal di kalangan kehutanan
dunia. Beberapa diantaranya bahkan telah menjadi dosen tamu pada beberapa
universitas di Eropa dan juga Jepang.
Baru sebulan yang lalu saya bertemu dengan seorang dosen Fakultas
Kehutanan Unmul, yang ahli dalam perhitungan perencanaan pengelolaan
hutan. Beliau dengan bangga mengatakan, "Akhirnya hasil kajian yang telah
dilakukan bertahun-tahun di Fakultas Kehutanan Unmul telah masuk dalam SK
Menteri Kehutanan untuk perhitungan pengelolaan kayu di perusahaan
kehutanan Indonesia. Walaupun saya tidak paham mengapa para pembuat
kebijakan tersebut sangat sukar mengerti tentang apa yang kami sampaikan.
Atau memang karena mereka tidak ingin mengerti ya?"
Sementara itu, beberapa guru besar kehutanan juga bertaburan di Unmul.
Terdapat ahli agroforestry dan hasil hutan non kayu, perencanaan
kehutanan, ekolabel dan sertifikasi, pembalakan ramah lingkungan,
silvikultur (budidaya) hutan alam tropis Indonesia, pengelolaan mangrove,
teknologi industri pulp dan kertas yang juga penemu teknologi minim limbah
pencemar, sosiologi kehutanan, hingga pada kajian pengikatan karbon pada
pepohonan.
Beberapa dosen Fahutan Unmul bahkan telah menjadi dosen tamu pada berbagai
universitas ternama di Eropa dan Jepang. Seorang dosen juga telah bekerja
sama dengan perusahaan jamu terkenal di negeri ini untuk temuan kimia
obat-obatan hutan. Di bidang keanekaragaman hayati, beberapa dosen juga
telah memiliki nama di tingkat nasional maupun internasional, serta
seorang diantaranya baru saja kembali dari Jepang setelah mempresentasikan
hasil kajiannya berkaitan mamalia kecil di Kaltim.
Komunitas Lokal Sangat Ahli Dalam Mengelola Hutan
Komunitas lokal di Kaltim sangat terkenal di Indonesia dan kalangan
internasional sebagai ahli pengelola hutan, yang juga menerapkan prinsip
kelestarian hutan. Komunitas di Muluy, Hutan Lindung Gunung Lumut
Kabupaten Paser, telah diakui oleh pemerintah kabupaten sebagai kelompok
masyarakat yang sangat arif dalam mengelola hutan mereka. Kerusakan hutan
telah mampu dicegah di kawasan tersebut.
Kelompok masyarakat di DAS Kedang Pahu Kutai Barat, telah sangat lama
mengembangkan kebun rotan hingga pemasaran hasil rotan dan kerajinan
rotan. Perkumpulan Petani dan Pengrajin Rotan telah menjadi tempat belajar
berbagai petani rotan di wilayah lain di Indonesia. Hanya saja mereka
selalu terkalahkan oleh kebijakan pemerintah yang sangat tidak berpihak
pada petani dan pengrajin rotan.
Kelompok masyarakat lokal di Malinau dan Nunukan pun merupakan ahli dalam
konservasi hutan. Begitu banyak peneliti internasional yang belajar pada
komunitas lokal di wilayah tersebut, sehingga dihasilkan berbagai
disertasi, tesis dan skripsi dari hasil interaksi peneliti dengan
komunitas tersebut. Sebuah kawasan bahkan telah memperoleh penghargaan
pelestari lingkungan di negeri ini.
Seorang warga Nunukan bahkan telah melakukan penanaman Ulin (Eusideroxylon
zwagerii) hingga seluas lebih dari 400 hektar. Seorang warga Kutai
Kartanegara telah berhasil menanam damar yang menghijaukan sebuah
perbukitan di dekat pusat kabupaten. Seorang lainnya di sekitar areal
tambang batubara telah melakukan penanaman jati lokal yang luas. Mereka
semua berujar, "Kami menanam ini, karena kami khawatir suatu waktu
anak-cucu kami tak punya kayu untuk membangun rumah."
Komunitas lokal di Kaltim sangat mampu melakukan pengelolaan hutan di
kawasan mereka. Pemanfaatan hasil hutan yang meningkatkan perekonomian
mereka juga telah diaplikasikan selama puluhan tahun. Perhatian pemerintah
daerah maupun pemerintah pusat masihlah sangat minim terhadap upaya-upaya
yang telah mereka lakukan. Bahkan beberapa kebijakan pemerintah telah pula
menghilangkan interaksi komunitas lokal dengan hutan yang selama ini mereka
kelola.
Belajar Kehutanan Tidak Harus ke Jepang
Bila melihat catatan di atas, maka menjadi sebuah pertanyaan bagi saya
sebagai salah satu warga Kaltim, "Belajar kehutanan kok harus ke Jepang?".
Para anggota parlemen harusnya tidak menghabiskan anggaran rakyat dalam
APBD untuk berjalan-jalan ke Jepang. Begitu berlimpahnya pengetahuan dan
pengalaman kehutanan di tanah Kaltim ini, harusnya dapat menjadi sebuah
pembelajaran berharga bagi para anggota parlemen, untuk kemudian dapat
menjadi sebuah acuan dalam pembuatan kebijakan kehutanan di daerah.
Cara belajar yang baik untuk anggota parlemen adalah datang kepada
akademisi kehutanan yang ada di Unmul, yang telah melakukan rangkaian
kajian panjang dalam pengelolan hutan, termasuk hasil hutan non kayu,
rehabilitasi dan reboisasi, reklamasi, hingga dalam hal industri
pengolahan hasil hutan. Selain itu, para anggota parlemen lebih baik untuk
belajar kehutanan pada komunitas lokal yang telah mengaplikasikan
pengelolaan hutan lestari dengan pemanfaatan hasil hutan non kayu,
sehingga mampu menyerap hambatan dan impian komunitas lokal dalam menjaga
kelestarian hutan Kaltim dan meningkatkan perekonomian lokalnya.
Degradasi hutan sudah semakin cepat terjadi. 6,4 juta hektar lahan di
Kaltim merupakan lahan kritis. 950 hektar hutan hilang setiap harinya atau
setengah hektar hutan hilang setiap menitnya. Pengelolaan hutan masa datang
di Kaltim bukan dengan mendatangkan investor. Prof Maman Sutisna dalam
berbagai pertemuan menyatakan, "Masa depan hutan Kaltim adalah hutan yang
dikelola oleh rakyat. Kalau tidak, maka kehancuran hutan akan terus
terjadi."
Setelah memperoleh kemenangan individu melawan hawa nafsu pribadi, maka
sudah saatnya para anggota parlemen melakukan perjuangan untuk melawan
ketidakadilan bagi rakyat Kaltim yang selama ini masih selalu terjadi.
Janji untuk berjuang bagi kesejahteraan rakyat yang pernah terucap sesaat
sebelum duduk di kursi parlemen sudah saatnya untuk ditunaikan. Sebab bila
tidak terpenuhi saat ini, akan sangat sukar untuk mempertanggungjawabkannya
pada sebuah pengadilan tanpa pembela di kemudian hari kelak.
Pada akhir tahun ini pula, di Bali akan berlangsung pertemuan para pihak
negara-negara yang meratifikasi Konvensi Perubahan Iklim. Kalangan
organisasi non pemerintah pun tak ketinggalan untuk melangsungkan kegiatan
di sela-sela pertemuan. Hampir seluruh dunia akan mengirimkan perwakilannya
di pertemuan Bali mendatang. Indonesia sendiri telah memiliki agenda agar
diadopsinya konsep pengurangan emisi dengan melakukan perlindungan hutan,
dengan harapan agar diperoleh kompensasi dari negara penyumbang emisi di
atmosfer kepada negara penjaga hutan. Indonesia bahkan telah melakukan
pertemuan pendahuluan dengan negara-negara pemilik hutan, dan Indonesia
menjadi pemimpin pertemuan tersebut.
Bila melihat rangkaian kejadian yang ada di tahun ini, maka terlihat
sebuah kebangkitan kecil bagi gerakan lingkungan hidup di dunia, dan juga
di berbagai tempat di negeri ini. Sebuah harapan kecil muncul ketika
menyaksikan semakin banyak yang peduli dan bergerak bagi pengelolaan
lingkungan hidup yang lebih baik. Walaupun masih menyisakan sebuah
pertanyaan apakah benar ada keberpihakan pengelola pemerintahan terhadap
lingkungan hidup yang baik dan sehat bagi rakyat?
Pengabaian Pengelolaan Lingkungan Hidup Dalam Pembangunan
Bila melihat pola yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia, terutama
melalui kebijakan-kebijakan yang dihasilkan, maka akan sangat disaksikan
ketimpangan keberpihakan pembangunan terhadap pengelolaan lingkungan
hidup. Sangat minimnya anggaran pengelolaan lingkungan hidup, baik yang
dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup beserta dengan Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah, maupun yang dikelola oleh
masing-masing institusi teknis lainnya, menunjukkan bahwa hingga saat ini
keberpihakan pembangunan masih sangat minim terhadap permasalahan
lingkungan hidup.
Padahal bila menilik lima tahun terakhir, maka akan sangat dapat
disaksikan semakin seringnya terjadi bencana ekologi, baik banjir,
kekeringan, maupun tanah longsor, yang telah menelan begitu banyak korban
harta maupun manusia. Bencana ekologi tersebut juga telah menghadirkan
begitu meluasnya kemiskinan dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat di
tingkat lokal.
Di sisi lain, pemerintah, baik pusat, provinsi maupun kabupaten-kota,
semakin royal memberikan perijinan kepada industri ekstraktif, tanpa
pernah memperhitungkan dampak ekologi yang akan timbul dari pemberian
ijin. Setelah otonomi daerah digulirkan, pemerintah kabupaten sangat
banyak mengeluarkan perijinan hak pengusahaan hutan skala kecil, tanpa
pernah melakukan pengawasan, hingga perijinan dikuasai oleh sekelompok
kecil orang dan menyisakan hamparan lahan tak berpepohonan. Pada tahun
berikutnya, pemerintah kabupaten-kota juga kembali mengeluarkan begitu
banyak perijinan untuk kuasa pertambangan, yang lagi-lagi tak pernah
memperhatikan analisis dampak lingkungan hidup.
Di Provinsi Kalimantan Timur, hingga tahun 2006 telah dikeluarkan ijin
kuasa pertambangan sebanyak 509 ijin dengan luas mencapai 1,6 juta ha.
Untuk perkebunan skala luas, pemerintah telah mengeluarkan perijinan
sejumlah lebih dari 150 ijin untuk luasan 2,9 juta ha. Sementara itu,
masih terdapat berbagai perijinan pertambangan, usaha kehutanan dan hutan
tanaman dari pemerintah pusat, yang membagi habis kawasan daratan Kaltim.
Fatamorgana Keberpihakan Lingkungan Hidup Dalam Politik
Saat masa pemilihan kepala daerah maupun dewan perwakilan rakyat, baik
daerah maupun pusat, sangat kental isu-isu pemberantasan kemiskinan,
peningkatan pendidikan dan layanan kesehatan, serta kepedulian terhadap
kelompok marginal dan lingkungan hidup dikumandangkan. Slogan kampanye
selalu meneriakan keberpihakan pada hal-hal yang menjadi kebutuhan
kehidupan masyarakat. Namun ketika kemudian kedudukan telah diraih, satu
persatu janji kampanye dilupakan.
Sistem politik negeri ini yang masih mengagungkan partai politik sangat
berperan untuk melihat arah keberpihakan pembangunan terhadap lingkungan
hidup. Pada Pemilu tahun 2004, hanya ada satu partai yang secara tegas
menuangkan keberpihakannya pada lingkungan hidup dalam platform partainya,
sementara yang lainnya sangat remang-remang. Sebuah angin segar bagi
lingkungan hidup juga semakin kencang, ketika tahun lalu sebuah partai
politik mendeklarasikan partainya sebagai partai hijau. Namun masih belum
terlalu jelas apa yang menjadi program partai sehingga menjadi hijau.
Partai Politik yang memiliki peran sangat kuat dalam perjalanan roda
pemerintahan, selama ini sangat menggantungkan modal politiknya dari
kelompok-kelompok pemodal, yagn sebagian besar berbasis pada industri
ekstraktif sumberdaya alam. Maka kemudian, ketika para wakilnya duduk di
parlemen dan eksekutif, maka sangat terlihat keberpihakan kebijakan
pembangunan yang tidak memperdulikan kepentingan lingkungan hidup. Kecuali
bila suatu masa calon independen dimungkinkan, maka bukan tidak mungkin ada
sebuah pertarungan baru dalam kebijakan pembangunan, termasuk dalam hal
pengelolaan lingkungan hidup.
Kepemimpinan Lingkungan Hidup Yang Kuat Bagi Negeri
Indonesia, ditengah begitu banyak bencana ekologi yang melanda, sangat
membutuhkan kepemimpinan yang kuat terhadap pengelolaan lingkungan hidup.
Visi dan cara pandang pemimpin "pelayan publik" di negeri ini terhadap
lingkungan hidup sangat dibutuhkan. Termasuk keberpihakan terhadap kelompok
marginal dan pengupayaan pendidikan dan kesehatan berkualitas dan murah
bagi rakyat.
Kepemimpinan yang kuat tersebut juga diharapkan akan mampu menjadi
pendorong gerbong perubahan kualitas kehidupan rakyat di masa mendatang.
Kebangkitan motivasi untuk menghasilkan inovasi dan kreatifitas anak
negeri menjadi tumbuh berkembang seiring dengan adanya kepemimpinan yang
dipercaya. Mekanisme kontrol, akuntabilitas dan transparansi pun
diharapkan hadir dengan adanya pemimpin yang memiliki visi tegas dalam
memperjuangkan nasib rakyat di masa mendatang.
Negeri ini telah sangat compang-camping akibat begitu banyaknya kekayaan
alamnya yang digadaikan kepada kelompok pemodal (asing). Begitu banyak
kekayaan negeri ini yang sudah tak lagi dimiliki negeri ini. Hingga hutang
luar negeri pun tak akan lagi mampu terbayarkan hingga generasi kesembilan.
Seorang pemimpin yang baik bagi negeri ini adalah yang mampu membangkitkan
sistem kelola sumberdaya alam berbasis komunitas lokal yang telah terbukti
memiliki kearifan terhadap alam dan lingkungan kehidupannya.
Menanti Kelahiran Pemimpin Masa Depan
Hari ini, begitu banyak yang menantikan seorang pemimpin masa depan bangsa
ini. Walau hanya dalam mimpi, karena kualitas pendidikan telah menjadikan
sebagian besar anak negeri ini sebagai robot intelektual yang hanya bisa
menjadi pekerja, bukan lagi sebagai pemikir kritis dan inovatif. Namun hal
tersebut bukan tidak mungkin terjadi. Mulai dari kelompok-kelompok kecil
yang kian membesar, akan ada waktu kelahiran pemimpin negeri ini yang akan
berada di barisan rakyat.
Perjalanan panjang hingga saatnya tiba sangat penting untuk diisi dengan
sebuah gairah kehidupan dengan berpihak terhadap kepentingan kebutuhan
dasar rakyat. Memperluas pola-pola pendidikan kritis, hingga melahirkan
inovator baru pada generasi muda hari ini. Biarlah waktu terus berlalu.
Detik demi detik berdetak penuh makna. Hingga satu waktu bangkitnya sebuah
kejayaan Indonesia dengan seorang pemimpin yang bergandengan tangan pada
rakyat, bukan tunduk pada pemodal.
Negeri ini kaya dan berdaulat. Begitu banyak rakyat negeri ini yang telah
jenuh dengan kemiskinan dan kesengsaraan. Bila tidak memulai berpikir
tentang perubahan negeri ini, maka perubahan itu tak akan pernah terjadi.
Rakyat negeri sudah saatnya bersatu. Bangunlah kelompok-kelompok diskusi
kritis. Bersarekatlah dalam keyakinan dan keikhlasan. Hingga satu waktu,
akan bersama untuk berlawan dengan keberanian!
-----
tulisan ini merupakan bagian dari Hari Aksi Blog tentang Lingkungan Hidup
tahun 2007